BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penelitian
adalah pekerjaan ilmiah yang bermaksud mengungkapkan rahasia ilmu secara
obyektif, dengan dibentengi bukti-bukti yang lengkap dan kokoh. Penelitian
merupakan proses kreatif untuk mengungkapkan suatu gejala melalui cara
tersendiri sehingga diperoleh suatu informasi. Pada dasarnya, informasi
tersebut merupakan jawaban atas masalah-masalah yang dipertanyakan
sebelumnya.Oleh karena itu, penelitian juga dapat dipandang sebagai usaha
mencari tahu tentang berbagai masalah yang dapat merangsang pikiran atau kesadaran
seseorang.
Sebagian
dari kualitas hasil suatu penelitian bergantung pada teknik pengumpulan data
yang digunakan.Pengumpulan data dalam penelitian ilmiah dimaksudkan untuk
memperoleh bahan-bahan yang relevan, akurat, dan reliable.Untuk memperoleh data
seperti itu, peneliti dapat menggunakan metode, teknik, prosedur, dan alat-alat
yang dapat diandalkan.Ketidaktepatan dalam penggunaan intrumen penelitian
tersebut dapat menyebabkan rendahnya kualitas penelitian.
Penelitian bertujuan menemukan jawaban atas pertanyaan melalui aplikasi prosedur ilmiah.Prosedur ini dikembangkan untuk meningkatkan taraf kemungkinan yang paling relevan dengan pertanyaan serta menghindari adanya bias.Sebab, penelitian ilmiah pada dasarnya merupakan usaha memperkecil interval dugaan peneliti melalui pengumpulan dan penganalisaan data atau informasi yang diperolehnya.
Penelitian bertujuan menemukan jawaban atas pertanyaan melalui aplikasi prosedur ilmiah.Prosedur ini dikembangkan untuk meningkatkan taraf kemungkinan yang paling relevan dengan pertanyaan serta menghindari adanya bias.Sebab, penelitian ilmiah pada dasarnya merupakan usaha memperkecil interval dugaan peneliti melalui pengumpulan dan penganalisaan data atau informasi yang diperolehnya.
1.2 Perumusan
Masalah
1. Apakah
yang dimaksud dengan populasi dan jenis-jenisnya?
2. Apakah
yang dimaksud dengan sampel?
3. Apakah
yang dimaksud dengan teknik sampling?
4. Bagamaimanakah
cara untuk menentukan ukuran sampel?
5.
Apa
yang dimaksud notasi ilmiah?
1.3 Tujuan
1. Menguraikan
pengertian populasi dan jenis-jenisnya
2. Menguraikan
pengertian sampel
3. Memaparkan
teknik sampling
4. Menjelaskan cara
untuk menentukan ukuran sampel
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Populasi
Populasi
berasal dari kata bahasa inggris population, yang berarti jumlah
penduduk. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/
subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2015:
80). Menurut Nazir (1983:327) mengatakan bahwa popuasi adalah
berkenaan dengn data bukan barang atau bendanya.Pengertian lainnya, diungkapkan
oleh Nawawi yang menyebutkan bahwa populasi adalah keseluruhan objek penelitian
yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala,
nilai tes, atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki
karaktersitik tertentu di dalam suatu penelitian.Sedangkan Riduwan (2002: 3)
mengatakan bahwa populasi adalah keseluruhan dari karakteristik atau unit hasil
pengukuran menjadi objek penelitian.
Dari
beberapa pendapat dapat disimpulkan bahwa populasi merupakan objek atau subjek
yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi syarat – syarat tertentu berkaitan
dengan masalah penelitian. Kaitannya dengan batasan tersebut, populasi
dapat dibedakan berikut ini :
1.
Populasi teoritis
(Theoritical Population), yakni sejumlah populasi yang batas-batasnya di
tetapkan secara kualitatif. Kemudian agar hasil penelitian berlaku juga bagi
populasi yang lebih luas, maka di tetapkan terdiri dari guru; berumur 25 tahun
sampai 40 tahun, program S1, jalur tesis, dll.
2. Populasi
yang tersedia (Accessible population), yakni sejumlah populasi yang secara
kuantitatif dapat di nyatakan dengan tegas. Misalnya, guru sebanyak 250 di kota
Bandung terdiri dari guru yang memiliki karakteristik yang telah di tetapkan
dalam populasi teoritis.
Bedasarkan sifatnya,
populasi dapat digolongkan menjadi populasi homogen dan populasi yaitu :
a. homogeny
adalah sumber data yang unsurnya memiliki sifat yang
sama sehingga tidak perlu mempersoalkan jumlahnya secara
kuantitatif.
b. Populasi heterogen adalah
sumber data yang unsurnya memiliki sifat atau keadaan yang berbeda (bervariasi)
sehingga perlu ditetapkan batas – batasnya, baik secara kualiatif maupun
kuantitatif.
2.2 Sampel
Sampel adalah bagian
dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Bila populasi besar,
dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada pupulasi, misalnya
karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti daapat menuggunakan
sampel yang diambil dari populasi itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk
populasi. Untuk itu sampel yangdiambil dari populasi betul-betul representatif
(mewakili).
Adapun
alasan-alasan penelitian dilakukan dengan mempergunakan sampel beikut ini:
1. Ukuran
populasi
Dalam hal populasi tak
terbatas (tak terhingga) berupa parameter yang jumlahnya tidak
diketahui dengan pasti, pada dasarnya bersifat konseptual. Karena
itu sama sekali tidak mungkin mengumpulkan data dari populasi
seperti itu. Demikian juga dalam populasi terbatas (terhingga) yang jumlahnya
sangat besar, tidak praktis untuk mengumpulkan data dari populasi 50
juta murid sekolah dasar yang tersebar diseluruh pelosok Indonesia misalnya.
2. Masalah
biaya
Besar-kecilnya biaya
tergantung juga dari banyak sedikitnya objek yang diselidiki.Semakin besar
jumlah objek, maka semakin besar biaya yang diperlukan, lebih – lebih bila
objek itu tersebar diwilayah yang cukup luas. Oleh karena itu, sampling ialah
satu cara untuk mengurangi biaya.
3. Masalah
waktu
Penelitian sampel selalu
memerlukan waktu yang lebih sedikit daripada penelitian populasi. Sehubungan
dengan hal itu,apabila waktu yang tersedia terbatas, dan kesimpulan diinginkan
dengan segera, maka penelitian sampel,dalam hal ini, lebih cepat.
4. Percobaan
yang sifatnya merusak
Banyak penelitian yang
tidak dapat dilakukan pada seluruh populasi karena dapat merusak atau
merugikan. Misalnya, tidak mungkin mengeluarkan semua darah dari tubuh
seseorang pasien yang akan dianalisis keadaan darahnya, juga tidak mungkin mencoba
seluruh neon untuk diuji kekuatannya. Karena itu penelitian harus dilakukan
hanya pada sampel.
5. Masalah
ketelitian
Masalah ketelitian
adalah salah satu segi yang diperlukan agar kesimpulan cukup
dapat dipertanggung jawabkan.Ketelitian ,dalam hal ini, meliputi
pengumpulan, pencatatan, dan analisis data. Penelitian terhadap populasi belum
tentu ketelitian terselengar. Boleh jadi peneliti akan menjadi bosan dlam
melaksanakan tugasnya. Untuk menghindarkan itu semua,penelitian terhadap sampel
memungkinkan ketelitian dalam suatu penelitian.
6. Masalah
ekonomis
Pertanyaan yang harus
selalu diajukan oleh seseorang penelitian; apakah kegunaan dari hasil
penelitian sepadan dengan biaya ,waktu, dan tenaga yang telah dikeluarkan? Jika
tidak, mengapa harus dilakukan penelitian? Dengan kata lain
penelitian sampel pada dasarnya akan lebih ekonomis daripada
penelitian populasi (sudjana, 1975:159-161); ( Hadari Nawawi,1923: 146-148).
Selanjutnya,
mengenai penetapan besar kecilnya sample tidaklah ada suatu ketetapan yang
mutlak, artinya tidak ada suatu ketentuan berapa persen suatu sample harus
diambil. suatu hal yang perlu diperhatikan adalah keadaan
homogenitas dan heterogenitas populasi. Jika keadaan populasi homogen, jumlah
sample hampir-hampir tidak menjadi persoalan, sebaliknya,jika keadaan populasi
heterogen, maka pertimbangan pengambilan sample harus memperhatikan
hal :
1. Harus
diselidiki kategori-kategori heterogenitas.
2. Besarnya
populasi dalam tiap kategori.
Karena
itu informasi tentang populasi perlu dikejar seberapa jauh dapat diusah1akan.
Satu hal yang perlu diingat, bahwa penetapan jumlah sampel yang
terlalu banyak selalu lebih baik dari pada kurang (oversampling is always
better than undersampling).
Menurut
Narbuko & Abu (2013: 108) Petunjuk - petunjuk untuk mengambil sampel :
1. Daerah
generalisasi
Yang penting disini
adalah menentukan dahulu luas populasinnya sebagai daerah generalisasi,
selanjutnya barulah menentukan sampelnya sebagai daerah penelitiannya. Di
sampling itu, yang penting adalah : “ kalau yang diselidiki hanya satu kelas
saja, jangan diperluas sampai kelas-kelas lainnya apalagi menyimpulkan untuk
sekolah-sekolah lain”.
2. Pengesahan
sifat-sifat populasi dan ketegasan batas-batasnya
Bila luas populasinya
telah ditetapkan , harus segera diikuti penegasan tentang sifat-sifat
populasinnya. Penegasan ini sangat penting bila menginginkan adanya valliditas
dan reabilitas bagi penelitiannya.Oleh sebab itu, haruslah ditentukan terlebih
dahulu luas dan sifat-sifat populasi, dan memberikan batas-batas yang tegas,
kemudian menetapkan sampelnya. Jangan terjadi kebalikannya,yaitu menetapkan
populasilah yang lebih dahulu baru kemudian sampelnya.
3. Sumber-sumber
informasi tentang populasi
Untuk mengetahui
ciri-ciri populasinya secara terperinci dapat diperoleh melalui bermacam-macam
sumber informasi tentang populasi tersebut. Misalnya, sensus penduduk
dokumen-dokumen yang disusun oleh instansi-instansi dan organisasi-organisasi,
seperti pengadilan, kepolisian, kantor P & K, kantor kelurahan, dan
sebagainnya.
Meskipun demikian,
haruslah diteliti kembali apakah informasi tersebut telah menunjukkan
validitasnya (kesahihan) . Hal itu perlu karena jangan sampai terjadi data
tahun 1954 masih dipakai sebagia sumber untuk tahun 1965, misalnya bila tahun
1954 tercatat jumlah anak rata-rata dalam seiap keluarga 4 orang, maka pada
tahun 1965 jumlah anak rata-rata mungkin tidak seperti itu (4 orang).
4. Menetapkan
besar kecilnya sampel
Mengenai berapa besar
kecilnya sampel yang harus diambil untuk sebuah penelitian, memang tidak ada
ketentuan yang pasti.
5. Menetapkan
teknik sampling
Dalam masalah sampel ,
ada yang disebut biased sampel , yaitu sampel yang tidak mewakili populasi atau
disebut juga dengan sample yang menyeleweng. Pengambilan sampel yang
menyeleweng disebut : biased sampling. Biased sampling adalah pengambilan
sampel yang tidak dari seluruh populasi, tetapi hanya dari salah satu golongan
populasi saja, tetapi generalisasinya dikenakan kepada seluruh populasi.Contoh
: misalnya mengadakan penelitian tentang penghasilan rata-rata orang
indonesia hanya diambil sample yang kaya raya saja, ataupun hanya yang
melarst ? miskin saja. Dengan sendiriny akan mengakibatkan adaanya kesimpulan
yang menyeleweng atau disebut biased conclusion.
Keuntungan menggunakan
sampel yaitu
1. Memdahkan
peneliti untuk jumlah sampel lebih sedikit dibandingkan dengan enggunakan
populasi dan apabila populasinya terlalu besar dikhawatirkan akan terlewati.
2. Penelitian
lebih efesien ( dalam arti menghemat uang, waktu dan tenaga).
3. Lebih
teliti dan cermat dalam pengumpulan data artinya jia subjeknya banyak
dikhawtirkan adanya bahaya bias dari orang yang mengumpulkan data, karena
sering dialami oleh staf bagian pengumpulan dat mengalami kelelahan sehingga
pencatatan data tidak akurat.
4. Penelitian
lebih efektif, jika penelitian bersifat destruktif(merusak) yang menggunakan
spesemen akan hemat dan bias dijangkau tanpa merusak semua bahan yang ada serta
bias digunakan untuk menjaring populasi yang jumlahnya banyak.
1.1. Teknik
Sampling
Teknik
sampling adalah cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan
ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya, dengan memperhatikan
sifat-sifat dan penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang representatif.
Secara umum, ada dua jenis teknik pengambilan sampel yaitu, sampel acak
atau random sampling / probability sampling dan sampel tidak acak
atau nonrandom samping/nonprobability sampling.
1. Sampel
acak atau random sampling / probability sampling
Random sampling adalah
cara pengambilan sampel yang memberikan kesempatan yang sama untuk diambil
kepada setiap elemen populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Artinya
jika elemen populasinya ada 100 dan yang akan dijadikan sampel adalah 25, maka
setiap elemen tersebut mempunyai kemungkinan 25/100 untuk bisa dipilih menjadi
sampel. Sedangkan yang dimaksud dengan nonrandom sampling atau nonprobability
sampling, setiap elemen populasi tidak mempunyai kemungkinan yang sama untuk
dijadikan sampel. Lima elemen populasi dipilih sebagai sampel karena letaknya
dekat dengan rumah peneliti, sedangkan yang lainnya, karena jauh, tidak
dipilih; artinya kemungkinannya 0 (nol).
a. Simple
Random Sampling atau Sampel Acak Sederhana
Teknik untuk
mendapatkan sampel yang langsung dilakukan pada unit sampling. Dengan demikian
setiap unsur populasi harus mempunyai kesempatan sama untuk bisa dipilih
menjadi sampel.
b. Proportionate
Stratified Random Sampling atau Sampel Acak Distratifikasikan
Teknik ini biasa
digunakan pada populasi yang mempunyai susunan bertingkat atau
berlapis-lapis.Misalnya sekolah, terdapat beberapa tingkatan kelas.Jika
tingkatan dalam populasi diperhatikan, mula-mula harus dipastikan strata yang
ada, kemudian tiap strata diwakili sampel penelitian.
c. Disproportionate
Stratified Random Sampling
Teknik ini digunakan
untuk menentukan junlah sampel, bila populasi berstrata tetapi kurang
proporsional. Misalnya pegawai dari unit kerja tertentu mempunyai; 3 orang
lulusan S3, 4 orang lulusan S2, 90 orang S1, 800 orang SMU, 700 orang SMP, maka
tiga orang lulusan S3 dan empat orang S2 itu diambil semuanya sebagai sampel.
Karena dua kelompok ini terlalu kecil bila dibandingkan dengan kelompok S1, SMU
dan SMP.
d. Cluster
Sampling atau Area Sampel
Teknik ini digunakan
jika populasi tidak terdiri dari individu-individu, melainkan terdiri dari
kelompok atau cluster. Misalnya, penelitian dilakukan terhadap populasi pelajar
SMU di suatu kota. Untuk itu random tidak dilakukan secara langsung pada semua
pelajar, tetapi pada sekolah/kelas sebagai kelompok atau cluster.
2. Nonprobability/Nonrandom
Sampling atau Sampel Tidak Acak
Nonprobability
sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberipeluang/
kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi
sampel (Sugiyono, 2013:122). Tidak semua unsur atau elemen populasi mempunyai
kesempatan sama untuk bisa dipilih menjadi sampel. Unsur populasi yang terpilih
menjadi sampel bias disebabkan karena kebetulan atau karena faktor lain yang
sebelumnya sudah direncanakan oleh peneliti. Teknik sampel ini meliputi samling
sistematis, kuota, aksidental, purporsive, jenuh, dan snowball.
a. Sampling
Sistematis
Sampling sistematis
adalah teknik pengambilan sample berdasarkan urutan dari anggota populasi yang
telah diberi nomor urut.
b. Sampling
kuota
Sampling kuota adalah
teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu
sampai jumlah (kuota) yang diinginkan.
c. Sampling
incidental
Sampling insidental
adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan yaitu siapa saja yang
secara kebetulan/ insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai
sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber
data.
d. Sampling
Purporsive
Sampling purporsive
adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.
e. Sampling
jenuh
Sampling jenuh adalah
teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai
sampel.Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari
30 orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang
sangat kecil.
f. Sampling
Snowball
Sampling
Snowball adalah teknik penentuan sampel yang mla-mula jumlahnya kecil,
kemudian membesar.
1.2. Menentukan
Ukuran Sampel
Jumlah
ukuran sampel sering dinyatakan dengan ukuran sampel. Jumlah sampel yang
diharapkan 100% mewakili populasi adalah sama dengan jumlah anggota populasi
itu sendiri. Jadi bila jumlah populasi 1000 dan hasil penelelitian itu akan
diberlakukan untuk 1000 orang tersebut tanpa ada kesalahan, maka jumlah sampel
yang diambil sama dengan jumlah populasi tersebut yaitu 1000 orang. Makin besar
jumlah mendekati populasi, maka peluang kesalahan generalisasi semakin kecil
dan sebaliknya makin kecil jumlah sampel menjauhi populasi, makin besar
kesalahan generalisasi (diberlakukan umum) (Sugiyono, 2015).
Roscoe
1975 (Sugiyono:2015) memberikan acuan umum untuk menentukan ukuran sampel:
1. Ukuran
sampel lebih dari 30 dan kurang dari 500 adalah tepat untuk kebayakan
penelitian
2. Jika
sampel dipecah kedalaam subsampel (pria/wanita, junior/senior, dan sebagainya),
ukuran sampel minimum 30 untuk tiap kategori adalah tepat.
3. Dalam
penelitian mutivariate (termasuk analisis regresi berganda), ukuran sampel
sebaiknya 10x lebih besar dari jumlah variabel dalam penelitian.
4. Untuk
Penelitian eksperimental sederhana dengan kontrol eksperimen yang ketat,
penelitian yang sukses adalah mungkin dengan ukuran sampel kecil antara 10
sampai dengan 20
Beberapa rumus untuk
menentukan jumlah sampel antara lain=
1. Rumus
Slovin
n =
n= sampel: N =
populasi: d= nilai presisi 95% atau sig= 0.05
2. Tabel Issac dan Michael
s =
dengan dk = 1, taraf
kesalahan bisa 1%, 5%, 10%.
P=Q= 0,5.
D= 0,05.
S= jumlah sampel
2.3 Notasi Ilmiah
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,
pengertian notasi adalah sistem lambing (tanda) yang menggambarkan bilangan
nada-nada dan ujaran. Proses pelambangan, nada atau ujaran dengan tanda
(huruf), catatan pendek yang perlu diketahui atau diingat. Sedangkan ilmiah
adalah bersifat ilmu, secara ilmu pengetahuan.Jadi, notasi ilmiah adalah ilmu
tentang sistem lambing (tanda) yang menggambarkan bilangan nada atau ujaran
dengan tanda huruf.
- Kutipan
Mengutip
pada dasarnya adalah sebagai kegiatan pengambilalihan pernyataan seseorang yang
disampaikan secara lisan meupun tertulis untuk tujuan ilustrasi atau
memperkukuh argumaen di tulisan sendiri.
- Kutipan
Langsung
Pengutipan
langsung adalah pengambilalihan pernyataan orang lain secara apa adanya, sesuai
redaksi yang terdapat dalam sumbernya.
Pernyataan
yang dapat dikutip secara langsung mempunyai kriteria dan bersifat (a)
definisi; (b) konsep yang sangat penting dan mendasar; (c) peraturan dan
perundang-undangan; (d) pendapat yang kontroversial; (e) ungkapan yang tidak
berbelit-belit; dan (f) tidak terlalu panjang (Muslich, 2009:89).
Pernyataan
orang lain yang dikutip secara langsung caranya berbeda sesuai dengan jumlah
kata. Pernyataan yang kurang dari 40 kata dapat dikutip langsung dengan cara
meletakkan di antara dua tanda petik ganda (“…”) atau kutipan tunggal (‘…’),
kutipan disatukan dalam teks utama, menyebut pengarang, tahun terbit karya, dan
halaman sumber. Nama penulis yang dikutip boleh diletakkan dalam teks utama
atau setelah kutipan.
Contoh
:
“Argumentasi
adalah suatu bentuk retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan
pendapat orang lain, agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai
dengan apa yang di inginkan oleh penulis atau pembicara” (Keraf,1983:3)
- Kutipan
Tidak Langsung
Kutipan
tidak langsung adalah pengungkapan kembali maksud penulisan dengan kata-katanya
sendiri.Jadi, yang di kutip hanyalah pokok-pokok pikiran, atau hanya ringkasan,
atau kesimpulan dari sebuah tulisan.
Pernyataan
yang dapat dikutip secara tidak langsung mempunyai kriteria dan bersifat (a)
bukan konsep dan pengertian yang penting; (b) berupa klasifikasi; (c) berupa
ilustrasi dan contoh; (d) ungkapan yang berbelit-belit dan membingungkan
pemahaman pembaca; dan (e) ungkapan yang sangat panjang sehingga perlu diambil
ide pokonya saja.
Pengutipan
pernyataan secara tidak langsung tidak memerlukan tanda petik ganda (“…”) atau
tunggal (‘…’) kecuali nama pengarang, tahun terbit, dan halaman karya yang
dikutip. Nama pengarang secara konvensional diletakkan di dalam teks utama atau
setelah pernyataan yang dikutip.
Contoh
:
Nilai
merupakan sesuatu pandangan, berisi sesuatu yang baik, diinginkan,
dicita-citakan, dan dianggap penting oleh masyarakat sehingga mempengaruhi
perilaku sosial dari orang yang memiliki nilai tersebut (Nurseno,2004:3)
- Teknik-Teknik
Notasi Ilmiah
- Foot
Note (Catatan Kaki)
Foot
note adalah catatan pada kaki halaman untuk menyatakan sumber kutipan, pendapat
buah pikiran, fakta-fakta, atau ikhtisar. Catatan kaki biasanya berisi nama pengarang,
judul, penerbit, tahun terbit, dan nomor halaman. Footnote pada tiap bab diberi
nomor urut, mulai dari angka 1 sampai dengan selesai dan dimulai dengan nomor
satu lagi pada bab-bab berikutnya.
Footnote
yang merupakan rujukan ditulis berdasarkan cara berikut ini :
- Nama
pengarang tanpa dibalik urutannya, diikuti koma.
- Jika
nama dalam tertulis lengkap disertai gelar akademis, catatan kaki
mencantumkan gelar tersebut.
- Judul
karangan dicetak miring tidak diikuti koma
- Nama
penerbit dan angka tahun diapit tanpa kurung dikuti koma.
- Nomor
halaman dapat disingkat hlm atau h. Angka nomor halaman diakhiri titik (.).
Singkatan
dalam foot note :
- (singkatan
dari ibidum, artinya sama dengan di atas) untuk catatan kaki yang
sumbernya sama dengan catatan kaki yang tepat di atasnya. Ditulis dengan
huruf kapital pada awal kata, cetak miring, diikuti titik, diikuti koma,
kemudian diikuti nomor halaman.
Contoh
:
- Badudu, Cakrawala Bahasa Indonesia, (Jakarta: Gramedia,
1994) h. 63.
Ibid.,
h. 72.
- cit. (singkatan
dari opere citato, artinya dalam
karya yang telah dikutip), dipergunakan untuk catatan kaki dari sumber
yang pernah dikutip, tetapi telah disisipi catatan kaki lain dari sumber
lain. Urutannya : nama pengarang, op. cit., nomor
halaman.
Contoh
:
- Badudu, Cakrawala Bahasa Indonesia, (Jakarta: Gramedia,
1994) h. 57.
Mochtar
Lubis, Teknik Magang, (Jakarta: Balai Pustaka, , 1987) h. 31.
- Badudu,
Op. Cit, h. 68.
- cit. (singakatan
dari loco citato, artinya
tempat yang telah dikutip), dipergunakan untuk catatan kaki dari sumber
yang pernah dikutip pada halaman yang sama, tetapi telah disisipi catatan
kaki lain dari sumber lain. Urutannya : nama pengarang, loc. cit. (tanpa nomor halaman)
Contoh
:
Henry
Tarigan, Menulis Sebagai Suatu Aspek Keterampilan Berbahasa,
(Jakarta: Gramedia, 1988) h. 91.
Umar, Para, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1988) h. 56.
Henry
Tarigan, loc cit.
- In
Note
In
note merupakan notasi ilmiah dengan cara meletakkan sumber yang dirujuk menyatu
dengan teks yang dirujuk. Pada teknik ini, sumber kutipan ditulis atau diletakkan
sebelum bunyi kutipan atau diletakkan dalam narasi atau kalimat sehingga
menjadi bagian dari narasi atau kalimat. Pada innote ketentuannya adalah
sebagai berikut :
- Membuat
pengantar kalimat sesuai dengan keperluan
- Menulis
nama akhir pengarang
- Mencantumkan
tahun terbit, titik dua, dan nomor halaman di dalam kurung
- Menampilkan
kutipan, baik dengan kutipan langsung maupun kutipan tidak langsung.
Contoh
:
Perkembangan
bahasa merupakan hal yang sangat urgen dalam tahap perkembangan jiwa anak,
menurut Yule (1996: 178 – 180), perkembangan bahasa dapat dibagi menjadi empat
tahap, yaitu (1) tahap pralinguistik (pre-language Stages);
(2) tahap satu kata, satu frasa (the one-word or holophrastic,
stage); (3) tahap dua kata, satu frasa (the two – word stage);
dan (4) tahap menyerupai telegram (telegraphic speech).
- End
Note
End
note adalah notasi ilmiah dengan cara memberikan keterangan sumber pernyataan
yang dirujuk dan keterangan lainnya yang ditempatkan di akhir sebuah karangan
ilmiah sebelum daftar pustaka. Dalam end note penulis dapat memberikan
keterangan-keterangan tambahan. Teknik penulisan end note sama dengan teknik
penulisan foot note, yang membedakan hanya letaknya. End note diletakkan di
akhir suatu karangan ilmiah.
Pada
teknik penulisan end note, nama pengarang diletakkan setelah bunyi kutipan atau
dicantumkan di bagian akhir narasi, dengan ketentuan sebagai berikut :
- Membuat
pengantar kalimat sesuai dengan kutipan
- Menampilkan
kutipan, baik dengan kutipan langsung maupun tidak langsung
- Menulis
nama akhir pengarang tanpa koma, tahun terbit titik dua, dan nomor halaman
di dalam kurung dan akhirnya diberi titik.
Contoh
:
Ada
aspek penguasaan pragmatik, anak dianggap sudah dapat berbahasa pada waktu ia
mampu mengeluarkan kata-kata pertamanya, yaitu sekitar usia satu tahun. Akan
tetapi sesungguhnya sejak masa-masa awal setelah kelahirannya anak mampu
berkomunikasi dengan ibunya.
Demikian
juga orang-orang dewasa di lingkungannya pun memperlakukan anak seolah-olah
sudah dapat berbicara (Spencer dan Kass, 1970 : 130).
- Daftar
Pustaka
Istilah daftar
pustaka sering dianggap sama dengan bibliografi (biblioghraphy), referensi (referency), atau kepustakaan.
Yang
dimaksud dengan bibliografi atau daftar pustaka adalah sebuah daftar yang
berisi kumpulan-kumpulan sumber bacaan atau sumber referensi karangan
ilmiah yang tengah digarap, yang terdiri atas judul buku-buku,
artikel-artikel, dan bahan-bahan penerbitan lainnya.
Daftar
pustaka merupakan syarat mutlak yang harus ada dalam suatu karya ilmiah, baik
dalam makalah, paper, skripsi, tesis, maupun disertasi. Letak daftar pustaka
dalam suatu karya ilmiah adalah setelah bab kesimpulan. Daftar pustaka ditulis
secara alfabetis sesuai nama-nama pengarang atau lembaga yang menerbitkannya.
Adapun urutan penulisan daftar pustaka adalah sebagai berikut :
- Nama
penulis titiktahun terbit titik judul buku yang diberi garis bawah
putus-putus atau dicetak miring titik kemudian
kota tempat terbit buku titik dua (:)
nama penerbit
Misalnya:
Arsyad,
Azhar. 2001. Dasar-dasar Penguasaan Bahasa Arab.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.
Sahertian,
Piet A. dan Ida Aleida Sahertian. Supervisi Pendidikan dalam
Rangka Program Inservice Education. Jakarta: Rineka Cipta.
- Jika
buku yang disebut di dalam daftar pustaka merupakan edisi terjemahan, setelah judul buku disebutkan
“edisi terjemahan oleh …” di dalam kurung. Dalam edisi terjemahan tahun
terbit yang dipakai adalah tahun terbit terjemahan.
Misalnya:
Titus,
Harold H, Merilyn Smith S., dan Richard T. Nolan. 1984. Persoalan-persoalan Filsafat, (edisi terjemahan
oleh Rasjidi H.M.), Jakarta: Bulan Bintang.
- Jika
buku dalam daftar pustaka itu berupa sebuah artikel dalam sebuah kumpulan
yang disunting seorang editor (antologi),
judul artikel itu diapit tanda petik ganda (tanpa garis bawah).
Misalnya:
Susilastuti,
Dewi H. (1993). “Berbagai Persoalan Kesehatan Reproduksi Perempuan”. Dalam
Fauzie Ridjal, Lusi Margiyani, dan Agus Fahri Husein (Editor). Dinamika Gerakan Perempuan di Indonesia. Yogyakarta:
Tiara Wacana Yogya.
- Jika
buku dalam daftar pustaka itu berupa karya-karya yang belum
dipublikasikan, seperti skripsi, tesis,
dan disertasi, judul itu tidak perlu diberi garis
bawah putus-putus atau dicetak miring, tetapi diletakkan di antara dua
tanda petik ganda.
Misalnya:
Wastono,
Afdol Tharik. 1997. “Kongruensi dan Reksi dalam Bahasa Arab”. Jakarta: Tesis
Magister Humaniora Univeritas Indonesia.
- Jika
sumber acuan dalam daftar pustaka berupa artikel yang diambil dari majalahatau jurnal, judul
artikel tidak perlu diberi garis bawah atau dicetak miring, tetapi diapit
tanda petik ganda, sedangkan yang digarisbawahi atau dicetak miring adalah
nama majalah atau jurnal dengan didahului kata “Dalam”.
Misalnya:
Sarbini.
2003. “Islam dan Problem Sosial: Perspektif Kekerasan Politik dan Agama”.
Dalam Jurnal Ilmiah Mamba’ul ‘Ulum. Edisi III. Surakarta.
- Jika
sumber acuan itu berupa artikel yang diambil dari koranatau surat kabar,
judul artikel diapit tanda petik ganda sebagaimana artikel yang dikuti
dari majalah, sedangkan nama surat kabar diberi garis bawah dan didahului
kata “Dalam”.
Misalnya:
Indrayana,
Denny. 2006. “Hakim Agung “Wanted””. Dalam Kompas. 3 Mei 2006.
Jakarta.
Suksmantri,
Eko. 2000. “Militerisasi Sipil, Ironi di Era Reformasi”. Dalam Suara Merdeka. 12 Mei 2000. Semarang.
- Jika
sumber acuan berupa hasil wawancara atau interview, penulisannya sebagai
berikut :
Sutarno.
2003. “Peran Teknologi dalam Mengaktualkan Paradigma Baru Pembelajaran dan
Manusia Pembelajar”.Wawancara dengan Ketua Program Studi Teknologi Pendidikan
Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, 3 Februari 2003.
- Jika
terdapat beberapa buku yang ditulis oleh seorang yang sama, nama penulis
ditulis yang pertama, sedangkan di bawahnya cukup ditulis :_________________
Misalnya:
Kridalaksana,
Harimurti. 1992. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
___________________.
1993. Kamus Linguistik. Edisi III. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
- Jika
tidak terdapat nama penulis dalam buku tersebut, yang ditulis adalah nama
lembaga yang menerbitkan buku itu.
Misalnya:
Dirjen
Binbaga Islam Departemen Agama RI. 1994. Kurikulum Madrasah Aliyah: GBPP
Bidang Studi Bahasa Arab. Jakarta.
- Jika
judul berbahasa Arab, judul harus ditransliterasikan ke dalam huruf Latin
dengan mengikuti pedoman transliterasi Arab-Latin yang merupakan SKB
(Surat Keputusan Bersama) Menteri Agama Republik Indonesia No.158 tahun 1987 dan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia No.0543b/U/1987 (terlampir).
Misalnya:
Gulāyīni,
Syaikh Mustafā. 2000. Jāmi’u ad-Durūsi al-Arabiyyah:
Juz al-Awwal wa as-Sāni wa as-Sālis. Edisi Revisi. Bairut:
al-Maktabatul Asriyyah.
Muhandis,
Kāmil. Tanpa Tahun. Mu’jāmu al-Mustalahati
al-Arabiyyah Fī al-Lugati wa al-Adāb. Bairut: Dar al-Ma’ārif.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan
pada bab II, dapat ditarik kesimpulan bahwa:
a. Populasi
adalah seluruh data yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan
waktu yang kita tentukan.
b. Jenis-jenis
populasi: populasi umum dan populasi target
c. Sedangkan
sampel adalah sebagian dari populasi, sebagai contoh (monster) yang diambil
dengan menggunakan cara-cara tertentu.
d. Adapun
alasan penelitian menggunakan sampel adalah:
Ukuran populasi,
Masalah biaya, Masalah waktu, Percobaan yang sifatnya merusak,mMasalah
ketelitian,dan Masalah ekonomis
e. Teknik
sampling adalah cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan
ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya, dengan memperhatikan
sifat-sifat dan penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang representatif.
f. Teknik-teknik
yang di gunakan dalam pengambilan sampel
1. Probability/Random
Sampling
2. Nonprobability/Nonrandom
Sampling atau Sampel Tidak Acak
Notasi ilmiah adalah ilmu tentang sistem lambing (tanda)
yang menggambarkan bilangan nada atau ujaran dengan tanda huruf.
Mengutip
adalah sebagai kegiatan pengambilalihan pernyataan seseorang yang disampaikan
secara lisan meupun tertulis untuk tujuan ilustrasi atau memperkukuh argumaen
di tulisan sendiri. Mengutip ada dua cara, yaitu secara langsung dan tidak
langsung. Kutipan secara langsung adalah pengambilalihan pernyataan orang lain
secara apa adanya, sesuai redaksi yang terdapat dalam sumbernya. Sedangkan
Kutipan tidak langsung adalah pengungkapan kembali maksud penulisan dengan
kata-katanya sendiri (yang di kutip hanyalah pokok-pokok pikiran, atau hanya
ringkasan, atau kesimpulan dari sebuah tulisan).